macet ini bisa membunuhku

author: taufan febriawan | November 5, 2009 |
2 comments
really hate this

really hate this

Setelah 7 tahun lebih… akhirnya “balik kuto”. dengan perjuangan keras menahan “cerobong asap” di dalam kereta, tiba juga di stasiun bekasi dengan selamat sentosa + pusing2 dikit. bayangkan, satu batang rokok tiap 5 menit :(. adalah seorang bapak separuh baya yang saya maksud dengan cerobong asap itu. dari awal saya perhatikan memang si bapak sudah menunjukkan penampilan yang aneh. sementara orang lain berkipas-kipas ria di dalam kereta, si bapak malah tertutup rapat dengan sweeter yang lumayan tebal + syal penutup leher. kelihatannya si bapak berusah melawan rasa dingin yang tidak normal. hiks2, tapi cara yang beliau pakai sangat2 merugikan orang lain. jika saya tidak salah ingat, beliau menghabiskan paling tidak 4 bungkus rokok selama perjalanan. satu2nya saat beliau tidak merokok adalah ketika beliau tidur. itupun sudah bisa dipastikan beliau tidak dapat menikmati tidurnya, yang sebentar-sebentar terbangun dan menyalakan rokok. terus terang dalam hati dan selama perjalanan, saya hanya bisa memaki-maki dalam hati perbuatan egois tersebut. saya sangat sungkan untuk menegur melihat keadaan beliau saat itu. mungkin memang saya yang kurang informasi, tapi bukannya cara beliau mengusir dingin dari tubuhnya merupakan langkah yang sangat tidak bijaksana dilihat dari sisi apapun? apalagi untuk seorang saya yang sangat imut dan sensitif ini 😀 (mulai narsis)

oke, walaupun dengan berat hati, toh akhirnya cerobong asap dalam kereta itu berakhir jg. berakhir satu muncul seribu 🙁 di dalam angkot setiap penumpang juga merokok.. agghhh, jadi berpikir apa mungkin saya yang tidak normal, maksudnya, saya tidak bisa menemukan alasan hawa dingin sehingga menjadikan rokok sebagai pelampiasan. pada pagi itu yang saya rasakan hanya hawa panas dari ujung kaki sampai ujung rambut. bahkan “knalpot” dalam angkot ini lebih parah dibandingkan cerobong asap barusan. asap rokok sulit untuk bisa menemukan jalan keluar pada angkot yang saya naiki pagi tadi. jadilah satu angkot penuh dengan kabut rokok. level pusing beralih dari keadaan waspada menjadi darurat dan sukses membuat saya pusing sampai sekarang.

oke, itu cerita tentang seonggok kertas bernama rokok yang kebetulan saya temui sepanjang perjalanan ke bekasi. sampai di rumah, seperti biasa, ibu masih tidur, adik sedang nonton bola (sampai pagi). di atas meja makan ada beberapa dus bakpia pathok + dodol oleh2 dari jogja. hal pertama yang terpikirkan adalah mengeluarkan semua baju2 yang belum dicuci yang saya bawa dari semarang. bukan karena baunya yang menusuk, namun karena stok baju saya memang sedikit, dikurangi yang sudah berstatus “kotor dan bau”. selesai beramah tamah dengan ibu, saatnya mempersiapkan diri untuk memenuhi panggilan kerja dari maxindo. sepatu kotor, kaos kaki tidak ada… agghhh, rasanya kepala yang pusing ini ingin pecah saja sekalian. ya sudah, kaos kaki bekaspun terpakai, dan sepatu prasejarah peninggalan bapak juga saya pakai.

tiba saatnya menunggu bus. 5, 30 menit tidak kunjung datang membuat saya mengkonfirmasi nomor bus kepada ibu. ternyata memang jarang bus yang akan saya naiki ini. satu jam habis untuk menunggu bus + merasakan panasnya bekasi yang membuat badan bercucuran keringat. tidak disangka ternyata bus yang saya tunggu adalah bus ac 🙂 ya, terbayarkan deh teriknya matahari. sampai di terminal, setelah bertanya-tanya, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan mikrolet. oke, seperempat jalan lancar-lancar saja walaupun kecepatan si mikrolet ini tidak lebih cepat dibandingkan kecepatan sepada adik saya. sisa perjalanan kemudian diisi dengan maaacceeetttt (agghhh, sesuatu yang saya keluhkan padahal tidak aneh di jakarta). tapi yang ini parah 🙁 total perjalanan dari bekasi menghabiskan waktu 4 jam! itu saja sudah terbantu oleh ojeg, yang saya temui di jalan dan akhirnya saya gunakan agar lebih cepat sampai. beberapa menit kemudian sampailah saya di tempat tujuan dan langsung disuguhkan komputer (berserta koneksi internet tentunya).

fiuhhh… begitulah cerita hari ini sampai tulisan ini diketik karena saya sedang bingung tidak tahu harus mengerjakan apa. ya sudahlah, kita ikuti saja apa maunya si bos. mudah2an hari ini bisa berakhir dengan kesenangan.. amin 🙂 (setelah susah datang kemudahan)

This entry was posted in Uncategorized by taufan febriawan. Bookmark the permalink

2 peoples comment on “macet ini bisa membunuhku”

  • M. Armiyadi Signori on 03:25 Jan/08/2010 said:

    cerita yang menarik.macet memang bisa membunuh kita dalam berbagai pengertian

  • fanny febri on 06:31 Feb/27/2010 said:

    ya ampuuun topaaaaannn!! hare geneh msh bawa kompor…?? kirain pas sma doank nenteng2 kompor.. kekekekek.. *pissssss*
    iya idup di jkt emg kudu sabar. gw bersyukur tempat kerja gw deket, cm se-emprit dr rumah. ga kebayang klo gw mst kerja daerah jkt sono, dgn tipikal gw yg emosi jiwa,, bisa tipes tiap bulan gw!! huahahahaha..
    tp ya jalanin aja, ini kan bukan sesuatu yg ga mgk untuk lo lewatin ya.. akan jd bag dr hari-hari lo ke depan.. (hiks hiks.. jd inget Hari, kasian amat ya dy mst berjuang ky gini tiap hari.. pk motor c, tp kan kasian capeeee…)
    anw, CAHYOOOOO!! hehehe..

get in touch

Your email address will not be published. Required fields are marked *